Rabu, 13 Mei 2009

Malam 1 Suro

SATU SURO TAHUN BARU JAWA

Kita yang berada di Indonesia, saat ini paling tidak mengenal empat macam tahun yang berbeda-beda, misalnya Tahun Masehi, Tahun Hijriah, Tahun Jawa, dan Tahun Imlek. Tahun Masehi didasarkan atas perputaran bumi mengitari matahari yang dikenal dengan tahun matahari, dan berkaitan dengan musim, sementara Tahun Hijriyah dan Tahun Jawa didasarkan pada perputaran bulan mengelilingi bumi dan tidak berkaitan dengan musim. Tahun yang berdasarkan perputaran matahari dan bulan memiliki perbedaan jumlah hari setiap tahunnya. Untuk tahun matahari, setiap tahunnya berjumlah 365/366 hari, sementara untuk tahun bulan, memiliki hari 354 per tahun.

Tahun Masehi mengawali tahun barunya setiap tanggal 1 Januari sementara Tahun Hijriyah mengawali tahun baru pada tanggal 1 Muharram dan Tahun Jawa pada tanggal 1 Suro. Tahun Jawa memiliki kesamaan dengan Tahun Hijriyah terutama mengawali tanggal dan bulannya. Perbedaannya terletak pada istilah penyebutan nama bulan. Tahun Hijriyah menyebut bulan Muharram atau Asyuro, sementara Tahun Jawa menyebut bulan Suro. Kesamaan keduanya ternyata dapat ditelusuri dari sejarah kerajaan Mataram Islam di bawah kekuasaan pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi).

Ketika itu di masyarakat Jawa, tahun yang menjadi pegangan masyarakat pada zamannya adalah Tahun Saka yang berdasarkan peredaran matahari. Sementara bagi umat Islam sendiri menggunakan Tahun Hijriyah. Pada waktu Sultan Agung berkuasa, Islam telah diakui menjadi agama di lingkungan istana Mataram Islam. Maka untuk tetap meneruskan penanggalan Tahun Saka yang berasal dari leluhurnya, dan ingin mengikuti penanggalan Tahun Hijriyah, maka Sultan Agung membuat kebijakan mengubah Tahun Saka menjadi Tahun Jawa. Maka ketika tahun 1555 Saka, oleh Sultan Agung diganti menjadi tahun 1555 Jawa dan berlaku untuk masyarakat pengikutnya. Sementara penetapan tanggal dan bulannya disamakan dengan tanggal dan bulan Tahun Hijriyah. Berarti tanggal 1 Suro 1555 Tahun Jawa sama dengan tanggal 1 Muharram 1043 Hijriyah dan bertepatan pula dengan tanggal 8 Juli 1633 Masehi.

Nama-nama bulan pada Tahun Jawa pun dibuat lain dan berbeda dengan nama-nama Tahun Hijriyah. Tentu saja disesuikan dengan ucapan masyarakat Jawa. Seperti bulan Muharram (Tahun Hijriyah) = bulan Suro (Tahun Jawa), bulan Shafar = Sapar, bulan Rabi'ul Awal = Maulud, bulan Rabi'ul Tsani = Bakda Maulud, bulan Jumadil Ula = Jumadil Awal, bulan Jumadil Tsaniyah = Jumadil Akir, bulan Rajab = Rejeb, bulan Sya'ban = Ruwah, bulan Ramadhan = Pasa, bulan Syawwal = Sawal, bulan Dzulqa'dah = Dulkaidah, dan bulan Dzulhijjah = Besar.

Bagi masyarakat Jawa, kegiatan-kegiatan menyambut bulan Suro sudah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu. Kegiatan-kegiatan yang berulang-ulang tersebut akhirnya menjadi kebiasaan dan menjadi tradisi yang setiap tahun dilakukan. Itulah yang kemudian disebut budaya dan menjadi ciri khas bagi komunitasnya. Namun kalau dicermati, tradisi di bulan Suro yang dilakukan oleh masyarakat Jawa adalah sebagai upaya untuk menemukan jati dirinya agar selalu tetap eling lan waspada. Eling artinya harus tetap ingat siapa dirinya dan dari mana sangkan paraning dumadi 'asal mulanya', kedudukannya sebagai makhluk Tuhan, tugasnya sebagai khalifah manusia di bumi baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Waspada, artinya harus tetap cermat, terjaga, dan waspada terhadap segala godaan yang sifatnya menyesatkan. Karena sebenarnya godaan itu bisa menjauhkan diri dari sang Pencipta, sehingga dapat menjauhkan diri mencapai manunggaling kawula gusti 'bersatunya makhluk dan Khalik'.

Bulan Suro sebagai awal tahun Jawa, bagi masyarakatnya, juga disebut bulan yang sakral, karena dianggap bulan yang suci, bulan untuk melakukan perenungan, bertafakur, berintrospeksi, mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Cara yang dilakukan biasanya disebut dengan laku, yaitu mengendalikan hawa nafsu dengan hati yang ikhlas untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Itulah esensi dari kegiatan budaya yang dilakukan masyarakat Jawa pada bulan Suro. Tentunya makna ini juga didapatkan ketika bulan Puasa (Ramadhan, Tahun Hijriyah), khususnya yang memeluk agama Islam.

Begitu pula untuk menghormati bulan yang sakral ini, sebagian masyarakat Jawa melakukan tradisi syukuran kepada Tuhan pemberi rejeki, yaitu dengan cara melakukan labuhan dan sedekahan di pantai, labuhan di puncak gunung, merti dusun atau suran, atau lainnya. Karena bulan Suro juga dianggap sebagai bulan yang baik untuk mensucikan diri, maka sebagian masyarakat lain melakukan kegiatan pembersihan barang-barang berharga, seperti jamasan keris pusaka, jamasan kereta, pengurasan enceh di makam Imogiri, dan sebagainya. Ada juga yang melakukan kegiatan sebagai rasa syukur atas keberhasilan di masa lalu dengan cara pentas wayang kulit, ketoprak, nini thowong, dan kesenian tradisional lainnya. Apapun yang dilakukan boleh saja terjadi asal esensinya adalah perenungan diri sendiri (introspeksi) sebagai hamba Tuhan.

Di sisi lain, ternyata kesakralan bulan Suro membuat masyarakat Jawa sendiri enggan untuk melakukan kegiatan yang bersifat sakral, misalnya hajatan pernikahan. Hajatan pernikahan di bulan Suro sangat mereka hindari. Entah kepercayaan ini muncul sejak kapan, kita tidak tahu. Namun yang jelas, sampai sekarang pun mayoritas masyarakat Jawa tidak berani menikahkan anak di bulan Suro. Ada sebagian masyarakat Jawa yang percaya dengan cerita Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan (Samodra Hindia).

Kirab pusoko 1 Suro adalah prosesi kirab pusaka-pusaka sakral milik Kraton maupun Puro Mangkunegaran. Kirab dilakukan pada malam 1 Suro (tahun baru Jawa) atau tahun baru Islam, 1 Muharram. Kirab di Puro Mangkunegaran biasanya mulai dilakukan pada jam 7 malam sampai selesai dengan cara berjalan kaki mengelilingi tembok Pura dengan tapa bisu (tidak mengeluarkan suara selama kirab).

Sedangkan kirab pusaka di Keraton Surakarta baru dimulai pada tengah malam sampai sekitar jam 3 dini hari, dengan rute melalui Alun-Alun Lor, Gladhag, Sangkrah, Pasar Kliwon, Gading, Gemblegan, Nonongan, Jl Slamet Riyadi dan kembali ke kraton melalui Gladhag dan Alun-Alun Lor dengan melalui jalur yang disebut Pradaksina (mengikuti arah jarum jam), dengan selalu menjaga posisi kraton berada di sebelah kanan pusaka yang dikirab.

Pusaka yang dikirab dibawa oleh sentono dalem (keluarga raja) dan abdi dalem yang terpercaya dan kuat secara fisik maupun spiritual karena pusaka tersebut dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang besar. Sebelum prosesi kirab dilakukan, pusaka-pusaka yang akan dikirab akan di-jamas (dibersihkan) terlebih dahulu. Selama pusaka dibawa keluar dari Dalem Ageng Probosuyoso, Susuhunan dan sentono dalem yang tidak ikut kirab akan melakukan sesi meditasi dan Tahajud di Kagungan Dalem Masjid Pudyosono.

Kirab 1 Suro di Kraton Kasunanan Surakarta dipimpin oleh sekelompok kebo bule yang disebut kebo Kyai Slamet. Kebo Kyahi Slamet biasa hidup mengembara disekitar Solo, mereka akan datang ke Kemandungan Lor setiap perayaan kirab 1 Suro akan dimulai tanpa ada yang mengarahkan. Begitupun ketika memimpin kirab, kebo Kyai Slamet berjalan tanpa ada yang mengarahkan.

Kerbau Bule adalah sebutan untuk kerbau berwarna albino koleksi Kraton Surakarta Hadiningrat. Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai hewan keramat, sehingga memperlakukan kerbau-kerbau itu melebihi manusia. Pada malam 1 Syura (1 Suro) dalam penanggalan Islam, kerbau dan sejumlah pusaka koleksi kerajaan diarak mengelilingi kompleks kraton.

Sebagian masyarakat, bahkan rela berebut kotoran (tinja) yang dibuang soleh sang kerbau karena dianggap bertuah. Kotoran itu, konon, bisa dijadikan obat bagi penderita sakit, bahkan dianggap bisa mendatangkah berkah penglarisan bagi para pedagang tradisional. Karena dikeramatkan pula, kerajaan mengangkat abdi dalem yang khusus menangani si kerbau. Tentu, menjadi pawang kerbau keramat juga menimbulkan kebanggan tersendiri bagi abdi dalem

Memang kalau dihubungkan dengan era yang sudah modern seperti saat ini, ulah-ulah seperti ini kadang terasa geli bahkan ada yang menganggap nyleneh atau nggilani. tapi bagi yang percaya kekuatan ghaib atu kekuatan yang tak kasat mata, malam satu suro adalah malam yang spesial. Bagi yang punya hasrat silakan berdoa semalam suntuk atau mendatangi tempat-tempat tertentu lalu melakukan ritual disana seperti contoh di Semarang ada Tugu Suharto, dimana para pengunjung akan berendam dalam sebuah sumber air karena percaya jika melakukan itu semua keinginannya akan lepas terwujud. Kemudian bagi para sesepuh atau paranormal atau bagi yang punya ’simpanan’ berupa pusaka-pusaka keramat, biasanya akan memandikan ‘barang’nya itu pada malam satu suro dengan upacara khusus.

Terlepas dari persoalan itu adalah hal yang bukan luar biasa bila khalayak ingin mengetahui macam-macam benda pusaka koleksi keraton ( Kasunanan dan Mangkunegaran). Namun faktanya bukan hal mudah untuk bisa mengetahuinya secara rinci koleksi itu, terutama tosan aji (keris, pedang, dan sebagainya) yang oleh keraton dianggap keramat atau mempunyai tuah. Kendalanya tak lain adalah soal aturan main yang ada dibalik tembok keraton.

Di keraton Surakarta Hadiningrat yang popular dengan sebutan Kasunanan, misalnya berlaku larangan bahwa para pangeran dan putri tidak boleh memaparkan soal benda pusaka kepada pihak luar. Satu-satunya yang berhak bicara mengenai benda-benda pusaka keraton Cuma Ingkang Sinuwun Paku Buwono XII. Kecuali beliau semua putra-putri dilarang.

Ketentuan yang wajib dipatuhi putra-putri raja itu tidak boleh dilanggar. Merekapun telah disumpah dihadapan PB XII untuk melaksanakan aturan yang berlaku sejak PB XII menjadi raja. Mereka baru akan buka suara soal benda pusaka jika memang ada dawuh (perintah) dari PB XII. Dengan alasan itu Dipo Kusumo meski menjabat sebagai wakil pegageng parentah Keraton menolak membeberkan keberadaan benda-benda pusaka koleksi dari jenis tosan aji.

Putri “ Mbalelo” Gray Koes Murtiyah yag biasa blak-blakan dengan wartawanpun nampak enggan bicara soal benda pusaka. Ia memang tidak menyinggung soal larangan seperti dikatakan saudaranya, Dipo Kusumo, tapi berkali-kali dipancing pertanyaan selalu dijawab sekenanya. Ia juga mengatakan bahwa memang kalau di keraton ini menyimpan barang-barang pusaka warisan dari zaman Majaphit dan Mataram.

Adalah KRTH Hardjonagoro alias Go Tik Swan sebagai tokoh yang tampil sebagai juru bicara Keraton Kasunanan. Dari keterangan budayawan jawa yang juga abdi dalem Kasunanan ini bias diperoleh gambaran mengenai benda-benda pusaka Kasunanan yang bermanfaat bagi pembaca. Dia mungkin satu-satnya orang luar yang banyak tahu mengenai keraton. Selain dikenal akrab dengan PB XII, ia yang akrab dipanggil Pak Kanjeng itu pernah menata koleksi museum Keraton.

Menurut Pak Kanjeng, benda-benda pusaka keraton khususnya jenis tosan aji tidak identik dengan berlian maupun emas. Apa yang dimaksud ini adalah bahwa jenis benda seperti keris, pedang, cudrik, dan alat-alat pertanian yang selama ini dikenal sebagai harta pusaka histories tidak berhiasan emas dan berlian sebagaimana diasumsikan masyarakat umum. Dan sejauh yang diketahuinya harta pusaka bernilai historis warisan dari zaman Pajajaran, Majapahit, Pajang, Mataram, dan Kartosuro, sampai kini masih utuh. Bahkan ada diantaranya warisan atau peninggalan dari kerajaan Kediri.

Kejen yang bentuknya lancip seperti tombak itu diberi nama Kanjeng Kyai Slamet yang tiap menyambut tanggal 1 Suro dikirabkan bersama benda pusaka lainnya. Dalam kirab Kejen ditempatkan di barisan depan mendampingi kerbau yang juga digelari Kyai Slamet. "Kebo dalam masyarakat kita juga untuk membajak maka dipasangkan dengan kejen,'' paparnya.

Benda-benda tosan aji yang disebutkan di atas merupakan benda pusaka andalan Kasunanan yang statusnya berada di tataran atas. “Ini karena historisnya yang begitu panjang,” kata Pak Kanjeng pula. Mengingat keberadaannya itu maka PB XII begitu “memanjakannya” sebagaimana diperbuat oleh para raja-raja pendalunya.”Dimanjakan yang saya maksud ialah diopeni atau dipelihara, dan disimpan di tempat khusus,” tambahnya.

PB XII, raja Kasunanan sekarang, melakukan sendiri jamasan pusaka tosan aji itu.Menurut Pak Kanjeng Hardjonagoro, jamasan terhadap pusaka kejen, sabit dan sebagainya ini oleh PB XII bukan diwarangi, tapi dibersihkan dengan minyak. Kebiasaan sejak dulu hingga sekarang jamasan dilakukan tiap malam Selasa Kliwon. Dan orang lain oleh PB XII tidak diperkenankan njamasi.”Sikap dan tindakan itulah yang saya sebut “memanjakan” tadi. Sesuai cerita yang saya peroleh para raja sebelum PB XII juga berbuat begitu,” tutur Pak Kanjeng.

Dibenarkan selama ini di Kasunanan dikenal dua macam benda pusaka, yaitu benda pusaka yang bersifat historis sebagaimana diungkap tadi dan benda pusaka yang sifatnya perabot kemewahan. Misalnya, perhiasan yang melekat di pakaian atau tubuh serta alat transportasi seperti kereta dan mobil. Tapi pusaka yang masuk kategori perabot kemewahan itu sekarang ini boleh dikata tidak
selengkap dulu.

Dalam budaya perkerisan ada sejumlah istilah yang terdengar asing bagi orang awam.. Pemahaman akan istilah-istilah ini akan sangat berguna dalamproses mendalami pengetahuan mengenai keris. Istilah dalam dunia keris,khususnya di Pulau Jawa, yang sering dipakai: angsar, dapur, pamor,perabot, tangguh, tanjeg, dan lain sebagainya. Di bawah ini adalah uraian singkat yang disusun secara alfabetik mengenai istilah perkerisan. Istilah ini lazim digunakan di Pulau Jawa dan Madura, tetapi dimengerti dan kadang kala juga digunakan di daerah lainnya, seperti Sulawesi, Sumatra, dan bahkan di Malaysia, Singapura,dan Brunei Darussalam.










Keris Bima, Nusa Tenggara Barat. Keris ini diduga milik keluarga bangsawan tinggi, sarung dan hulunya berlapis emas.
Luk keris. Angka-angka menunjukkan bilangan jumlah luknya.



Dua macam pamor yang tergolong jenis pamor miring.






Angsar Luk Mendak Pamor

Angsar adalah daya kesaktian yang dipercaya oleh sebagian orang terdapat pada sebilah keris. Daya kesaktian atau daya gaib itu tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan oleh orang yang percaya. Angsar dapat berpengaruh baik atau posistif, bisa pula sebaliknya. Pada dasarnya, semua keris ber-angsar baik. Tetapi kadang-kadang, angsar yang baik itu belum tentu cocok bagi setiap orang. Misalnya, keris yang angsar-nya baik untuk seorang prajurit, hampir pasti tidak cocok bila dimiliki oleh seorang pedagang. Keris yang angsar-nya baik untuk seorang pemimpin yang punya banyak anak buah, tidak sesuai bagi pegawai berpangkat rendah. Guna mengetahui angsar keris, diperlukan ilmu tanjeg. Sedangkan untuk mengetahui cocok dan tidaknya seseorang dengan angsar sebuah keris, diperlukan ilmu tayuh.

Dapur Adalah istilah yang digunakan untuk menyebut nama bentuk atau type bilah keris. Dengan menyebut nama dapur keris, orang yang telah paham akan langsung tahu, bentuk keris yang seperti apa yang dimaksud. Misalnya, seseorang mengatakan: "Keris itu ber-dapur Tilam Upih", maka yang mendengar langsung tahu, bahwa keris yang dimaksud adalah keris lurus, bukan keris yang memakai luk. Lain lagi kalau disebut dapur-nya Sabuk Inten, maka itu pasti keris yang ber-luk sebelas. Dunia perkerisan di masyarakat suku bangsa Jawa mengenal lebih dari 145 macam dapur keris. Namun dari jumlah itu, yang dianggap sebagai dapur keris yang baku atau mengikuti pakem hanya sekitar 120 macam saja. Serat Centini, salah satu sumber tertulis, yang dapat dianggap sebagai pedoman dapur keris yang pakem memuat rincian jumlah dapur keris sbb:

Keris lurus ada 40 macam dapur. Keris luk tiga ada 11 macam. Keris luk lima ada 12 macam. Keris luk tujuh ada 8 macam. Keris luk sembilan ada 13 macam. Keris luk sebelas ada 10 macam. Keris luk tigabelas ada 11 macam. Keris luk limabelas ada 3 macam. Keris luk tujuhbelas ada 2 macam. Keris luk sembilan belas, sampai luk duapuluh sembilan masing-masing ada semacam.
Namun, menurut manuskrip Sejarah Empu, karya Pangeran Wijil, jumlah dapur yang dianggap pakem lebih banyak lagi. Catatan itu menunjukkan dapur keris lurus ada 44 macam, yang luk tiga ada 13 macam, luk sebelas ada 10 macam, luk tigabelas ada11 macam, luk limabelas ada 6 macam, luk tujuhbelas ada 2 macam, luk sembilanbelas sampai luk duapuluh sembilan ada dua macam, dan luk tigapuluh lima ada semacam. Jumlah dapur yang dikenal sampai dengan dekade tahun 1990-an, lebih banyak lagi.

Luk Istilah ini digunakan untuk bilah keris yang tidak lurus, tetapi berkelok atau berlekuk. Luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Hitungannya mulai dari luk tiga, sampai luk tigabelas. Itu keris yang normal. Jika luknya lebih dari 13, dianggap sebagai keris yang tidak normal, dan disebut keris kalawijan atau palawijan. Jumlah luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Selain itu, irama luk keris dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, luk yang kemba atau samar. Kedua, luk yang sedeng atau sedang. Dan ketiga, luk yang rengkol yakni yang irama luknya tegas.

Dalam dunia perkerisan adalah pembayaran sejumlah uang atau barang lain, sebagai syarat transaksi atau pemindahan hak milik atas sebilah keris, pedang, atau tombak. Dengan kata yang sederhana, mas kawin atau mahar adalah harga. Istilah mas kawin atau mahar ini timbul karena dalam masyarakat perkerisan terdapat kepercayaan bahwa isi sebilah keris harus cocok atau jodoh dengan pemiliknya. Jika isi keris itu jodoh, si pemilik akan mendapat keberuntungan, sedangkan kalau tidak maka kesialan yang akan diperoleh. Dunia perkerisan juga mengenal istilah melamar, bilamana seseorang berminat hendak membeli sebuah keris.

Mendak adalah sebutan bagi cincin keris, yang berlaku di Pulau Jawa, Bali, dan Madura. Di daerah lain biasanya digunakan istilah cincin keris. Mendak hampir selalu dibuat dari bahan logam: emas, perak, kuningan, atau tembaga. Banyak di antaranya yang dipermewah dengan intan atau berlian. Pada zaman dulu ada juga mendak yang dibuat dari besi berpamor. Selain sebagai hiasan kemewahan, mendak juga berfungsi sebagai pembatas antara bagian hulu keris atau ukiran dengan bagian warangka.

Pamor dalam dunia perkerisan memiliki 3 (tiga) macam pengertian. Yang pertama menyangkut bahan pembuatannya; misalnya: pamor meteorit, pamor Luwu, pamor nikel, dan pamor sanak. Pengertian yang kedua menyangkut soal bentuk gambaran atau pola bentuknya. Misalnya: pamor Ngulit Semangka, Beras Wutah, Ri Wader, Adeg, dan sebagainya. Ketiga, menyangkut soal teknik pembuatannya, misalnya: pamor mlumah, pamor miring, dan pamor puntiran.

Selain itu, ditinjau dari niat sang empu, pola pamor yang terjadi masih dibagi lagi menjadi dua golongan. Kalau sang empu membuat pamor keris tanpa merekayasa polanya, maka pola pamor yang terjadi disebut pamor tiban. Orang akan menganggap bentuk pola pamor itu terjadi karena anugerah Tuhan. Sebaliknya, jika sang empu lebih dulu membuat rekayasa pola pamornya, disebut pamor rekan (rekan berasal dari kata reka = rekayasa). Contoh pamor tiban, misalnya: Beras wutah, Ngulit Semangka, Pulo Tirta. Contoh pamor rekan, misalnya: Udan Mas, Ron Genduru, Blarak Sinered, dan Untu Walang.

Ada lagi yang disebut pamor titipan atau pamor ceblokan, yakni pamor yang disusulkan pembuatannya, setelah bilah keris selesai 90 persen. Pola pamor itu disusulkan pada akhir proses pembuatan keris. Contohnya, pamor Kul Buntet, Batu Lapak, dll.







Selut gaya Surakarta, jenis njeruk keprok

Pendok keris: No 1 sampai 4 gaya Surakarta, no. 5 gaya Yogyakarta.


Pendok Perabot, ricikan, selut

Pendok berfungsi sebagai pelindung atau pelapis gandar, yaitu bagian warangka keris yang terbuat dari kayu lunak. Namun fungsi pelindung itu kemudian beralih menjadi sarana penampil kemewahan. Pendok yang sederhana biasanya terbuat dari kuningan atau tembaga, tetapi yang mewah terbuat dari perak atau emas bertatah intan berlian. Bentuk pendok ada beberapa macam, yakni pendok bunton, blewehan, slorok, dan topengan.

Dalam dunia perkerisan, asesoris bilah keris disebut perabot keris. Perlengkapan atau asesoris itu meliputi warangka atau sarung keris, ukiran atau hulu keris, mendak atau cincin keris, selut atau pedongkok, dan pendok atau logam pelapis warangka.

Ricikan adalah bagian-bagian atau komponen bilah keris atau tombak. Masing-masing ricikan keris ada namanya. Dalam dunia perkerisan soal ricikan ini penting, karena sangat erat kaitannya dengan soal dapur dan tangguh keris.
Sebilah keris ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng tanda-tandanya adalah berbilah lurus, memakai gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil. Gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil, adalah komponen keris yang disebut ricikan.

Selut seperti mendak, terbuat dari emas atau perak, bertatahkan permata. Tetapi fungsi selut terbatas hanya sebagai hiasan yang menampilkan kemewahan. Dilihat dari bentuk dan ukurannya, selut terbagi menjadi dua jenis, yaitu selut njeruk pecel yang ukurannya kecil, dan selut njeruk keprok yang lebih besar.
Sebagai catatan; pada tahun 2001, selut nyeruk keprok yang bermata berlian harganya dapat mencapai lebih dari Rp. 20 juta! Karena dianggap terlalu menampilkan kemewahan, tidak setiap orang mau mengenakan keris dengan hiasan selut.

Tangguh arti harfiahnya adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya merupakan perkiraan, me-nangguh keris bisa saja salah atau keliru. Kalau sebilah keris disebut tangguh Blambangan, padahal sebenarnya tangguh Majapahit, orang akan memaklumi kekeliruan tersebut, karena bentuk keris dari kedua tangguh itu memang mirip. Tetapi jika sebuah keris buatan baru di-tangguh keris Jenggala, maka jelas ia bukan seorang ahli tangguh yang baik. Walaupun sebuah perkiraan, tidak sembarang orang bisa menentukan tangguh keris. Untuk itu ia perlu belajar dari seorang ahli tangguh, dan mengamati secara cermat ribuan bilah keris. Ia juga harus memiliki photographic memory yang kuat.



Bentuk keris tangguh Segaluh









Ladrang Kadipaten


Tangguh

Mas Ngabehi Wirasoekadga, abdidalem Keraton Kasunanan Surakarta, dalam bukunya Panangguhing Duwung (Sadubudi, Solo, 1955) membagi tangguh keris menjadi 20 tangguh.. Keduapuluh tangguh itu adalah: Pajajaran, Tuban, Madura, Blambangan, Majapahit, Sedayu, Jenu, Tiris-dayu, Setra-banyu, Madiun, Demak, Kudus, Cirebon , Pajang, Pajang, Mataram, Ngenta-enta,Yogyakarta, Kartasura, Surakarta, Yogyakarta.

Tanjeg adalah perkiraan manfaat atau tuah keris, tombak, atau tosan aji lainnya. Sebagian pecinta keris percaya bahwa keris memiliki isi yang disebut angsar. Kegunaan atau manfaat angsar keris ini banyak macamnya. Ada yang menambah rasa percaya diri, ada yang membuat lebih luwes dalam pergaulan, ada yang membuat nasihatnya di dengar orang. Untuk mengetahui segala manfaat angsar itu, diperlukan ilmu tanjeg. Dalam dunia perkerisan, ilmu tanjeg termasuk esoteri keris.

Tayuh merupakan perkiraan tentang cocok atau tidaknya, angsar sebilah keris dengan (calon) pemiliknya. Sebelum memutuskan, apakah keris itu akan dibeli (dibayar mas kawinnya), si peminat biasanya terlebih dulu akan me- tayuh atas keris itu. Tujuannya untuk mengetahui, apakah keris itu cocok atau berjodoh dengan dirinya.

Warangka atau sarung keris kebanyakan terbuat dari kayu yang berserat dan bertekstur indah. Namun di beberapa daerah ada juga warangka keris yang dibuat dari gading, tanduk kerbau, dan bahkan dari fosil binatang purba. Warangka keris selalu dibuat indah dan sering kali juga mewah. Itulah sebabnya, warangka juga dapat digunakan untuk memperlihatkan status sosial ekonomi pemiliknya. Bentuk warangka keris berbeda antara satu daerah dengan lainnya. Bahkan pada satu daerah seringkali terdapat beberapa macam bentuk warangka. Perbedaan bentuk warangka ini membuat orang mudah membedakan, sekaligus mengenali keris-keris yang berasal dari Bali, Palembang, Riau, Madura, Jawa, Bugis, Bima, atau Malaysia.Berikut adalah jenis-jenis warangka dari berbagai daerah perkerisan: Warangka Surakarta Biasanya terbuat dari kayu cendana wangi atau cendana Sumbawa (sandalwood - Santalum Album L.) Pilihan kedua adalah kayu trembalo, setelah itu kayu timaha pelet. Warangka ladrang terbagi menjadi empat wanda utama, yaitu Ladrang Kasatriyan, Ladrang Kadipaten, Ladrang Capu, dan Ladrang Kacir. Dua wanda yang terakhir sudah jarang dibuat, sehingga kini menjadi langka. Warangka ladrang adalah jenis warangka yang dikenakan untuk menghadiri suatu upacara, pesta, dan si pemakai tidak sedang melaksanakan suatu tugas. Bila dibandingkan pada pakaian militer, warangka ladrang tergolong Pakaian Dinas Upacara (PDU).

Selain ladrang, di Surakarta juga ada warangka gayaman, yang dikenakan pada saat orang sedang melakukan suatu tugas. Misalnya, sedang menjadi panitia pernikahan, sedang menabuh gamelan, atau sedang mendalang. Prajurit keraton yang sedang bertugas selalu mengenakan keris dengan warangka gayaman. Warangka gayaman Surakarta juga ada beberapa jenis, di antaranya: Gayaman Gandon, Gayaman Pelokan, Gayaman Ladrang, Gayaman Bancigan, Gayaman Wayang. Jenis warangka yang ketiga adalah warangka Sandang Walikat. Bentuknya sederhana dan tidak gampang rusak. Warangka jenis inilah yang digunakan manakala seseorang membawa (bukan mengenakan) sebilah keris dalam perjalanan.

Dalam pembahasan tentang pusaka pada acara kiraban satu Suro ini memang merupakan salahsatu dari benda atau karya senirupa. Dari keterangan diatas telah meliputi dari segi aspek subjek matter, form, dan juga medium. Bahkan mengenai semiotiknyapun sedikit telah dijelaskan. Jadi pada intinya acara kiraban malam 1 Suro itu adalah mencuci semua pusaka-pusaka keraton mangkunegaran dan juga Kasunanan. Pusaka tersebut diantaranya adalah berupa keris, tombak, alat gamelan, bahkan kerbau yang telah dianggap sebagai pusaka juga yaitu pusaka Kyai Slamet. Pusaka-pusaka yang telah dicuci tersebut kemudian di arak mengelilingi rute yang sudah ditentukan dengan barisan terdepan adalah kerbau bule atau kebo bule yang merupakan keturunan dari Kyai Slamet.

Pusaka keris yang saya ambil sebagai sampel salahsatu karya senirupa ini, sangat artistik dan tidak hanya itu keris juga memiliki simbol-simbol pada bagian-bagiannya. Seperti pada pamor, konon katanya pada sebuah keris akan muncul aura dan karakter si pemilik keris yang terlihat pada pamornya. Untuk itu tidak sembarangan dalam proses pembuatan keris tersebut, karena keris dibuat sangat hati-hati dan juga teliti. Kemudian di zaman sekarang ini jarang sekali Empu (orang yang membuat keris), makanya kebanyakan yang menjadi seorang Empu itu merupakan keturunan dari orang tuanya.

Keris merupakan karya seni yang memiliki karismatik tersendiri. Dari bahan baja dan besi mampu menghasilkan suatu karya seni yang indah dan unik, meskipun proses pembuatannya menghabiskan waktu yang sangat lama. Dan untuk pusaka keraton Kasunanan memang sangat dikeramatkan, makanya sangat dijaga. Suatu karya seni yang juga terbilang mahal, jarang dimiliki oleh orang-orang biasa. Meskipun terlihat seperti barang biasa, namun banyak sekali keunikan-keunikan yang dimiliki oleh keris.

Sayangnya produksi keris tidak sepesat industri-industri lain seperti batik dan lain-lain. Alangkah baiknya jika Indonesia khususnya Jawa Tengah yang terkenal sekali dengan kerisnya memproduksi keris dengan baik untuk di eksport ke luar negeri. Karena perkembangan teknologi juga seharusnya mendukung proses produksi ini. Dan harapannya dengan seperti itu nantinya akan lebih memperkenalkan kebudayaan kita dan juga memelihara salah satu ciri dari kebudayaan Jawa.

LAMPIRAN






TRADISI JAWA

MEMPERINGATI MALAM SATU SURO

DI KERATON KASUNANAN SURAKARTA




Oleh:

Anis Fadila

NIM. K3204008

Disusun guna melengkapi Ujian Semester Mata Kuliah Penulisan Kritik

Dosen Pengampu Lili Hartono, S, Sn., M.Hum

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SENI RUPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar